Categories
Tekno

Memberikan Pemahaman yang Lengkap tentang Big Data

Pernah mendengar soal Big Data? Istilah ini bagi sebagian orang hanyalah parafrase dari bisnis analitik yang selama ini sudah dilakukan. Namun, sebagian lagi menyangkal bahwa bisnis ini berbeda dengan analitik tradisional. Imron Zuhri, Senior Advisor/ CTO Mediatrac menyebutkan bahwa perbedaan big data dari analisa tradisional terletak pada besaran skala data yang dianalisis. “Karena kita bisa mengolah data lebih banyak, (men)detil, jadi kesimpulan lebih tajam,” tuturnya. Menurut Regi Wahyu, CEO Mediatrac, Indonesia belum tertinggal dengan negara-negara lain soal Big Data ini. “Saat ini saya masih berkuliah di Amerika Serikat soal Big Data. Saya sekelas dengan teman-teman dari Brazil, Prancis, Jepang. Mereka semua juga masih baru mulai mengembangkan Big Data ini. Jadi Indonesia masih sama-sama belajarlah dengan negara-negara lain,” terangnya yakin. Regi menyebutkan salah satu kendala analisa Big Data di negeri ini adalah sulitnya mengumpulkan data primer. “Data itu sebenarnya ada, tapi tersebar, tidak diketahui umum, atau belum didigitalisasi,” jelasnya. Bereksperimen dengan Big Data, Regi, Imron, dan rekan-rekan di Mediatrac lantas mengerjakan proyek iseng.

Baca Juga : https://teknorus.com/wa-web/

Mereka mencari korelasi antara shio seseorang dengan kecenderungan pembelian properti. Mereka mendata shio semua orang yang ada di Jakarta. Dari data tersebut, mereka melihat bahwa ternyata properti yang ada di daerah kepala naga ternyata kebanyakan dimiliki dan diminati oleh shio yang kecil-kecil, “seperti shio ayam, tikus, babi,” jelasnya. “Shio-shio yang besar ternyata kebanyakan tinggal di tempat-tempat lain. Rupanya shio yang kecil-kecil ini sangat berminat tinggal di daerah tersebut. Nah, berdasarkan data ini kita mengambil kesimpulan, kalau mau menjual properti di daerah kepala naga, juallah kepada mereka yang bershio kecil,” terang Imron sembari tersenyum lebar. Nah, data shio ini menurutnya masih bisa dihubungkan dengan hal-hal lain sesuai kebutuhan penelitian. Contoh lain perbedaan analisa big data dengan analisa tradisional misalnya saat meneliti pola konsumsi pengguna selular untuk mengetahui tingkat kepuasan mereka. “Kalau dulu data yang dikumpulkan mungkin hanya berdasarkan pola pemakaian bulanannya, sekarang kita bisa menelitinya dengan lebih detil. Kita bisa mengamati hingga data penggunaan dari jam ke jam,” tuturnya. Dengan demikian, data yang mesti dianalisa tentu tak terbayang banyaknya. Namun, analisa yang dihasilkan akan detil dan tepat. “Karena variabel lebih banyak, jadi persepsinya jadi beda. Jadi kita bisa hubungkan hal-hal yang dulu ngga kebayang karena datanya tidak dimaasukan ke dalam variabel.” Data-data ini dulu tak dimasukkan dalam analisa sebab terhalang oleh kapasitas mesin pengolah data.

“Big Data dengan kapasitas (sistem) besar, membuat semua variabel bisa dimasukkan, sehingga hasilnya lebih menarik dan komplit,” tandasnya. Petualangan Imron dan rekan-rekan dengan Big Data belum usai. Mereka kini juga tengah menguji bagaimana Big Data bisa digunakan untuk membantu petani. “Kita melakukan penelitian di Lampung dan Cianjur,” terang Imron. “Kita berusaha mengumpulkan data sebanyak mungkin. Kita tempatkan sensor yang ditaruh ditanah untuk mengukur kadar oksigen dan air. Untuk dapat data curah hujan, kita pakai data satelit, pakai drone untuk hitung jumlah tanaman. Ini bertujuan agar kita bisa memprediksi berapa panen yang bisa didapatkan nantinya. Lewat drone kita ingin tahu yang tumbuh berapa dan sudah setinggi apa. Tumbuhnya rata apa tidak,” jelasnya. Semua data ini menurut Imron dibutuhkan agar petani bisa menkalkulasi lahan garapannya. Tujuan akhirnya agar petani bisa memberi jaminan hingga lahannya bisa diasuransikan. “Sekarang petanipetani kita tidak punya asuransi. Di negara-negara besar mereka punya semua. Asuransi penting, sehingga petani punya kepastian usaha.

Di Indonesia hampir tidak ada mekanisme untuk menghitung premi bagi petani. Kalau data itu ada, kita bisa bantu petani bekerja sama dengan perusahaan asuransi,” jelas Imron. Nah, menarik bukan apa yang bisa kita lakukan dengan Big Data? Untuk mengenal lebih jauh mengenai penggunaan dan optimasi Big Data, Mediatrac mengadakan Big Data Week pada 9-10 Maret 2015 di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place Jakarta. “Selama ini berbagai acara Big Data yang pernah kita datangi selalu bias dengan kepentingan vendor. Maka kita ingin membuat acara Big Data yang benar-benar menjelaskan esensi dari Big Data itu sendiri,” jelas Regi. Selain seminar, acara ini juga akan di meriahkan dengan Hardware Hackaton pada 7-8 Maret 2015. “Belakangan banyak hackaton software. Kita ingin membuat hackaton hardware yang akan menciptakan hardware untuk menjawab tantangan dan fenomena sosial. Kita juga akan membuka API ke beberapa datadata penelitian kita,” jelas Regi. Informasi lebih lanjut silahkan cek www. bigdataindonesia.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *