Categories
Tekno

Godok Teknopreuneur, Indosat Siapkan Ekosistem Bisnis Digital

Sebuah studi dari David McClelland menyebutkan bahwa kemajuan suatu negara bisa dinilai dari banyaknya jumlah wirausahawan di negara itu. Setidaknya jumlah wirausahawan sejumlah 2% dari total penduduk sudah cukup mampu mendongkrak ekonomi negara. Sayangnya, dalam urusan ini negara kita memang tertinggal ketimbang negara-negara lain. Kisaran entrepreneur di Amerika sebesar 11%, Jepang 10%, Korea Selatan 4%, Singapura 7%, Malaysia 5%, dan Cina 4%. “Sementara di Indonesia jumlah entrepreneurnya masih 1,5%,” ujar Division Head Public Relations Indosat, Adrian Prasanto. Oleh karena itu, untuk mendukung tumbuhnya entrepreneur di tanah air, Indosat menyediakan ekosistem end-to-end yang siap membina para entrepreneur tanah air. Dalam ekosistemnya ini, Indosat fokus pada para penggiat startup teknologi.

Mata rantai ekosistem ini dimulai dari lomba kompetisi ide di IWIC. Mata rantai ini berujung pada bantuan pembinaan dengan menyediakan inkubator Ideabox. Lulus dari inkubator ini, Indosat menyediakan jaringan untuk kemudahan mendapat investasi dari rekanan yang mereka gandeng. Mata rantai pertama dimulai dengan menggelitik para inovator untuk berpikir kreatif yang menjadi dasar inovasi. Ide ini lantas dituangkan dalam proposal untuk dikompetisikan di Indosat Wireless Competition (IWIC). Ide yang dikompetisikan tentu saja mesti memberi manfaat dan terkait dengan TI. Jika proposal mereka terpilih, peserta hanya diminta untuk membuat prototipe produk dari ide inovasi yang mereka ajukan itu. Selepas itu, tentu ada hadiah menarik bagi pemenangnya.

Tapi, selain bagi-bagi hadiah, pemenang IWIC juga diberi kesempatan untuk memperdalam ide inovasi mereka itu agar bisa dikembangkan menjadi bisnis. “Kita tidak ingin selesai pengumuman IWIC kita cuma bagi-bagi hadiah, bersenang-senang, dan sudah. Tapi kita ingin para pemenang IWIC ini mendapat mentoring agar idenya bisa berkembang dan mereka menjadi teknopreneur. Mereka bisa memiliki bisnis dari ide mereka itu,” tutur pria yang akrab disapa Pras itu. Bekerja sama dengan Founder Institute, para pemenang ini akan dilatih lewat bootcamp agar mereka terampil membisniskan ide. “Pemenang juga punya priviledge untuk masuk dalam Ideabox. Tapi, mereka tetap harus mengikuti tahap seleksi yang ada,” terangnya saat diwawancarai CHIP. Ideabox adalah mata rantai berikutnya dari Indosat untuk menggodok para entrepreneur TI ini.

Ideabox adalah inkubator yang berdiri sejak pelaksanaan IWIC tahun Godok Teknopreuneur, Indosat Siapkan Ekosistem Bisnis Digital lalu. Dengan adanya pusat inkubasi ini, para startup (perusahaan pemula) yang terpilih akan difasilitasi dan mendapat mentoring khusus. Startup mana pun bisa masuk ke dalam inkubator ini dan mengikuti proses seleksinya. Saat ini Ideabox sudah menelurkan dua angkatan. “Angkatan pertama empat startup dan angkatan kedua tujuh startup,” terang Pras. Lulus dari masa inkubasi, Indosat telah menyediakan bermacam model pendanaan. Sebab, masalah permodalan kerap kali menjadi penghambat bisnis bukan? Terdapat dua model pendanaan yang disediakan, berupa crowdfunding dan menggandeng investor. Crowdtiative adalah crowdfunding yang diinisiasi indosat. Platform crowdfunding ini dibesut oleh perusahaan telekomunikasi asal Singapura, Starhub. Crowdfunding adalah sistem pendanaan yang dikumpulkan dari masyarakat. Masyarakat bisa memberikan sumbangan uang jika ia tertarik degan ide yang ditawarkan oleh inisiator ide di website Crowdtiative. Lewat dana yang terkumpul dari masyarakat itu, si empu-nya ide bisa memulai inisiatif yang telah mereka posting ke website itu.

Kedua adalah pendanaan langsung dari investor. Startup atau perusahaan pemula yang sudah lulus Ideabox dan punya bisnis potensial, akan mendapat sokongan dana dari Mountain SEA Ventures. Indosat pun tak segan untuk berinvestasi bagi mereka yang bisnisnya telah terbukti berkembang. Untuk pendanaan ini Indosat bekerja sama dengan Softbank. Menurut Pras, strategi baru ini diterapkan agar para peserta IWIC bisa lebih serius memikirkan sisi bisnis dari ide dan aplikasi yang mereka ajukan di IWIC. “Pengalaman kami terhadap pemenang IWIC tahun lalu, mereka kaget ketika dihadapkan pada program mentoring yang ditawarkan oleh Founder Institute,” jelas Adrian. Alasannya, mereka belum siap menjadi teknopreneur. Oleh karena itu, dengan memasukkan ide peserta ke Crowdtiative ini, Pras berharap para peserta bisa termotivasi untuk memikirkan kelangsungan ide dan aplikasi mereka lebih jauh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *