Categories
Uncategorized

Solusi Bisnis Manajemen – 7 Langkah Memilih Lokasi Terbaik Berbisnis

Solusi Bisnis Manajemen – 7 Langkah Memilih Lokasi Terbaik Berbisnis

Guna menentukan lokasi usaha, pendekatannya harus dari berbagai aspek jenis usaha, demografi, arus lalu-lintas, pejalan kaki, tempat parkir, harga sewa, keamanan, dan sarana pendukung. Anda pasti pernah mendengar nasihat para pelaku usaha, betapa pentingnya memilih tempat usaha. Saking pentingnya, mereka bahkan sampai mengulang tiga kali lokasi, lokasi, lokasi. Namun, kenyataannya, ketika membuka resto baru atau retail pakaian, ada yang justru disibukkan dengan mengujicoba resep menu baru atau tersandera dengan pemilihan desain toko yang menyita waktu. Kini saatnya, menentukan lokasi terlebih dulu sebelum menuntaskan hal lain.

Sumber : Jasa Seo Semarang

Terlebih bagi mereka yang usahanya bergerak di retail, pemilihan lokasi yang tepat ibarat udara segar penopang kehidupan. Nah, berbicara tentang lokasi, di dunia marketing ada istilah kantong pasar dan koridor pasar. Koridor pasar merujuk pada sebuah jalan atau umumnya jalan utama, di sisi kiri-kanannya padat dan rapat dengan toko-toko, outlet, atau penjaja-penjaja barang. Bisa berwujud shopping mall, grosir, pengecer, atau gerobak dorong. Kenapa usaha kita harus diarahkan ke situ “Karena makin banyak orang yang berjualan di situ, perputaran uangnya juga makin banyak,” jelas Yadi Budhisetiawan, Managing Director Force One, konsultan pemasaran dan distribusi.

Istilah lainnya adalah kantong pasar yang biasanya tidak berada di jalan raya. Ini untuk mendefinisikan sebuah kawasan yang barangkali panjangnya 500 m dan lebarnya 300 m. Tapi di situ bisa ada 30, 50, atau 100 pedagang. Bisa pula toko, supermarket, atau hypermarket. Keberadaan mall, bisa menjadi contoh adanya kantong pasar. Salah Target Ada kisah yang bisa dijadikan contoh, ternyata, lokasi, tak berdiri sendiri, harus dikaitkan dengan segmentasi dan variabel lainnya. Seorang pengusaha membuka gerai hair cut dengan sistem franchise.

Setelah melakukan survei, ia memilih basement, bersebelahan dengan tempat parkir mobil, di sebuah gedung prestisius di Jakarta. Asumsinya, dengan tarif cukur cepat minimal Rp35.000, gerai tersebut akan bisa menjaring pelanggan, para profesional golongan menengah atas yang tiap hari berkantor dan memarkir mobilnya di situ. Tapi apa mau dikata, hari berbilang minggu dan bulan. Para profesional yang diharapkan merapikan rambutnya, enggan bertandang. Tak mau menanggung rugi terus-menerus, pemilik gerai akhirnya menutup tempat usaha ini. Pelajaran apa yang bisa diambil